Istri pertama, Bu Sengsarawati, alias kesengsaraan,
hanya bisa diproduksi oleh penanganan masalah yang keliru,
managemen yang kontra-produktif, serta langkah tanpa strategi
dan taktik alias tanpa siyasah wa kaifiyah.
Istri kedua, Bu Roro Bingung, pasti merupakan output
dari tidak lengkapnya informasi, dari pengetahuan yang tidak memadai,
dari ketidaktahuan alias kebodohan, yang terpelihara dengan subur
karena telinga tuli dan hati hanya berisi nafsu. Istri keempat,
keputusasaan, bahasa Qurannya Taiasu, jadi namakan saja Bu Taiasu,
adalah akumulasi dari dialektika penghancuran: tidak mendengar maka tidak tahu,
tidak tahu maka tidak bisa, tidak bisa maka tidak kelakon,
tidak kelakon maka marah, karena marah maka penuh nafsu,
karena penuh nafsu maka tak bisa mendengar,
tidak mendengar maka tidak tahu...dan teruskan mubeng
lagu kanak-kanak di dusun-susun: Joko Penthil thela-thelo ayo
lo lopis mambu ayo mbu mbukak tenong ayo nong nongko sabrang
ayo brang brangkat kaji ayo ji jimat roo ayo jo joko penthiiiiiil thela-thelo....
Monggo kalau ada yang ingin dan bertahan menjadi Joko Penthil.
Selamat thela-thelo. Mudah-mudahan Allah tidak menganugerahkan opsi
keempat: fenomena tark. Allah meninggalkan kita. Kita kabur kanginan.
Mending Allah kasih opsi kelima: adzab yang berupa pemusnahan sekalian.***
1 komentar:
Membaca tulisan ini saya teringat masa-masa dulu waktu saya pengen belajar Filsafat (He..orang teknik belajar Filsafat). Tapi bahasa yang muter-muter seperti ini kadang justru menarik buat saya. Pada dasarnya setiap orang pasti punya konsep diri dalam mengarungi hidup yang kadang sulit diprediksi. Konsep diri yang tidak jelas akan membuat seseorang memiliki isteri-isteri tersebut. Karena itulah penting bagi kita menegaskan seperti apa konsep diri kita.
Posting Komentar